Menu

Bali Harus Mampu Mencetak SDM Berkualitas

  • Selasa, 21 Juli 2009
  • 483x Dilihat
Bali Harus Mampu Mencetak SDM Berkualitas
Sebagai salah satu institusi terbesar di negeri ini, Bank Indonesia telah menunjukkan kepedulian yang begitu besar terhadap dunia pendidikan dari jenjang terendah hingga tertinggi. Kepedulian itu diimplementasikan dalam kegiatan, salah satunya "Bank Indonesia Peduli Pendidikan bersama Yayasan Karmany Smansa". Puncaknya, Minggu (19/7) pada acara reuni di kantor BI Denpasar diserahkan hadiah, kenang-kenangan serta beasiswa bagi siswa berprestasi. Dalam reuni tersebut selain para guru dan mantan guru SMAN I, juga nampak hadir ratusan alumni yang kini banyak menduduki posisi penting di antaranya mantan Rektor Unud Prof. Wita, Rektor Unud Prof. Bakta, Wali Kota Rai Mantra, Rektor Undiknas Prof. Sri Darma serta tak ketinggalan Pemimpin BI Denpasar sendiri Drs. Viraguna Bagoes Oka, M.A. yang merupakan alumni SMAN 1 Denpasar angkatan 69. Menurut Viraguna, pendidikan menjadi kunci penting dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkualitas. Untuk itu pendidikan khususnya di Bali harus dapat berkembang dan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Ditegaskan, peningkatan kualitas pembangunan artinya mencakup peningkatan kesejahteraan ekonomi, kesehatan serta mutu SDM secara moral dan intelektualitas. Untuk mewujudkan pembangunan yang berkualitas maka pendidikan mesti terus ditingkatkan. Terkait hal itu pula melalui acara BI Peduli Pendidikan ini, Viraguna bukan saja memberi penghargaan terhadap para guru serta mantan guru yang dinilai begitu besar jasa-jasanya dalam mencetak generasi muda penerus bangsa yang berkualitas juga menggelar sejumlah kegiatan yang pada tujuannya untuk ikut membangkitkan dunia pendidikan di Bali serta mendukung pembangunan lokal. Diingatkan, salah satu kelemahan pendidikan di Indonesia adalah rendahnya kualitas SDM terutama di daerah terpencil. Kualitas dalam hal ini kesiapan dalam menghadapi dunia kerja. Penyebabnya antara lain rendahnya skill dan knowledge pengajar dan belum adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilakukan. ''Bahkan mindset orang tua terkesan sempit mengenai kriteria sukses dan mindset dari mayoritas masyarakat yang menganggap pendidikan bergengsi adalah pendidikan formal jalur umum,'' ujar master jebolan AS ini Sumber : Bali Post