Menu

DEMOKRATIS, KEMITRAAN, LINGKUNGAN DAN GLOBALISASI MENGGAGAS SEKOLAH MASSA DEPAN

  • Selasa, 08 Februari 2011
  • 559x Dilihat
DEMOKRATIS, KEMITRAAN, LINGKUNGAN DAN GLOBALISASI  MENGGAGAS SEKOLAH MASSA DEPAN
Kereneng,(pendidikan.denpasarkota.go.id) DEMOKRATIS, KEMITRAAN, LINGKUNGAN DAN GLOBALISASI MENGGAGAS SEKOLAH MASSA DEPAN Oleh : Drs. I WAYAN SUPARTHA. M.Pd Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun sejauh ini belum menampakkan hasil. Yang jadi pertanyaan besar buat kita semua, mengapa kebijaksanaan mengenai pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal menjawab problem masyarakat? Perubahan dan Penyempurnaan Kurikulum sudah berkali-kali dilakukan namun dunia pendidikan kita masih terkesan jalan ditempat kalau tidak boleh dikatakan mundur kebelakang (set back). Apakah kegagalan pembaharuan pendidikan kita ini dikarenakan oleh pembaharuan yang bersifat tambal sulam (erratic) ? Memang masalah pendidikan di negara kita ini sejak jaman orde baru sampai saat ini kurang mendapat perhatian yang layak kalau dibandingkan dengan sektor ekonomi dan politik. Pendidikan seolah bukan bagian pokok penyebab nyaris ambruknya negeri ini. Realitas ini menunjukkan kapasitas dan wawasan bangsa ini masih belum bisa berpikir jernih ke depan. Kapasitas dan wawasan kita masih berkutat pada kondisi kekinian saja, sehingga solusi dan pemecahan masalah juga melulu bersifat teknis-pragmatis, bukan strategis jangka panjang, Oleh karena itu diperlukan keberanian untuk menetapkan preoitas di bidang pendidikan dan melakukan penghematan pada sektor-sektor lainnya. Pendidikan merupakan program strategis jangka panjang oleh karena itu tugas-tugas dan perbaikan serta peningkatan bidang pendidikan tidak bisa dijalankan secara reaktif sambil lalu dan sekenanya, melainkan mesti dengan cara proaktif, insentif dan strategis. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, sudah saatnya kita juga tidak memandang pendidikan hanya menjadi masalah individual lembaga pendidikan formal (sekolah) semata, melainkan juga menjadi masalah masyarakat keseluruhan. Sekolah tidak hanya diartikan secara intitusional, melainkan juga berada di mana mana, terutama dalam keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar . Sehingga semua aspek dalam kehidupan tersebut menjadi sarana dan media pembelajaran. Suasana seperti inilah yang memberikan iklim kondusif bagi lahirnya masyarakat belajar (learning society) Sekolah Masa Depan Model belajar yang terpusat pada guru (teaching center) selama ini banyak diterapkan di sekolah dengan model belajar aktif dan mandiri (learning center) berdasarkan prinsif-prinsif ilmu kognetif modern. Dengan model ini keterlibatan secara total baik fisik maupun mental dan kecintaan secara alami akan tumbuh dalam diri setiap siswa. Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran yakni aktif dalam berfikir (minds-on) dan aktif dalam berbuat (hands on). Kedua aktivitas ini satu sama lain saling terkait. Sekolah massa depan tentu tidak lagi cukup jika hanya menempa dua jenis kecerdasan saja yakni kecerdasan linguistik dan kecerdasan logis metematis atau disebut kecerdasan akademik. Kita perlu memulai memasukkan pelajaran yang mencakup kecerdasan emosional. Dalam mengembangkan keperibadian yang utuh kecerdasan emosional jauh lebih penting daripada kecerdasan akademik. Kontribusi IQ (Intelektual Quation) dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang maksimal sekitar 20% sedangkan 80% sisanya ditentukan oleh faktor faktor lain yaitu kecerdasan emosional (EQ) (Daniel Goleman, 1996). Sekolah massa depan paling tidak dapat mengembangkan asfek-asfek demokratis, kemitraan, lingkungan dan asfek globalisasi. Sekolah Demokratis. Di dalam sekolah yang demokratis perlu dikembangkan suasana yang demokratis pula, kebebasan menggunakan gagasan, kemampuan hidup bersama dengan teman yang mempunyai pandangan berbeda dan keterlibatan siswa di sekolah. Keterkaitan sekolah dan masyarakat. Hubungan antara sekolah dan masyarakat sekitar ini ditujukan untuk mencapai dua hal yaitu : (1) sekolah memiliki komonitas peserta didik yang berdomisili tidak terlalu jauh dari sekolah. Dengan demikian akan terjadi proses rayonisasi berdasarkan domisili. Dengan adanya rayonisasi fungsional ini akan menimbulkan sinkronisasi antara kegiatan sekolah dengan kegiatan kemasyarakatan, sehingga peserta didik bisa belajar dan menyerap kehidupan dari masyarakatnya. (2) Dengan adanya rayonisasi fungsional tersebut tersebut akan muncul kaitan emosional antara masyarakat dengan sekolah. Adanya kaitan emosional ini akan mengundang partisifasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan dalam pemberdayaan pendidikan pada khususnya. Sekolah kaitan dengan lingkungan. Guru sering mendapat kesulitan dalam melaksanakan tugasnya karena langkanya sumber atau bahan yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Buku tidak cukup, alat Bantu (alat peraga) sangat kurang dan bahan lainnyapun tidak cukup. Namun, apakah sekolah akan kita biarkan berjalan terus dengan segala kekurangannya?