Menu

SMA PGRI 6 Denpasar Kini Berstatus RSKM Gurunya Ikuti Workshop Peningkatan Profesionalisme Guru

  • Selasa, 29 Desember 2009
  • 806x Dilihat
SMA PGRI 6 Denpasar Kini Berstatus RSKM Gurunya Ikuti Workshop Peningkatan Profesionalisme Guru
Denpasar (Bali Post) -Guru-guru SMA PGRI Denpasar sejak Senin (28/12) kemarin mengikuti workshop peningkatan profesionalisme guru. Mereka diberi pelatihan menyusun RPP, pembelajaran berbasikan TI dan sistem evaluasi. Kepala SMA PGRI 6 Denpasar Drs. IGB Wiadnyana, M.M., M.Pd. didampingi Ketua Komite Drs. I Made Dasna Astadi, M.M. menegaskan guru menjadi kunci kesuksesan pembelajaran di kelas. Makanya guru yang dibenahi pertama di sekolah ini. Usai workshop, ia menargetkan di sekolah swasta favorit ini tak ada lagi pembelajaran menggunakan papan tulis di kelas, melainkan dengan TI. ''Itu dilakukan secara bertahap,'' ujarnya. Ia menegaskan SMA PGRI 6 Denpasar saat ini dipercaya pemerintah sebagai Rintisan Sekolah Kategori Mandiri (RSKM). Dalam waktu empat tahun, dia harus berkembang menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internsional (RSBI) atau Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal (PBKL). ''Tampaknya yang terakhir ini pas untuk sekolah kami,'' ujarnya. Ketua PPLP Dasmen PGRI Kota Denpasar Drs. Dewa Putu Putra, M.M., M.H., M.Pd. menilai wajar SMA PGRI 6 Denpasar menerima predikat RSKM berkat prestasinya. Keunggulan ini perlu diterjemahkan dalam pembelajaran bermutu. Program YPLP PGRI, katanya, dijalankan dengan baik di sekolah ini. PPLP Dasmen PGRI Kota Denpasar memiliki 16 ribu siswa dan 100 guru. Ia mengakui SDM guru dan kaseknya kini semakin banyak yang pascasarjana. Sebentar lagi akan melahirkan lima kasek bergelar doktor. Kadisdikpora Kota Denpasar Drs. Gusti Lanang Jelantik, M.Si. saat membuka workshop ini mengatakan di Denpasar saat ini ada 10 sekolah berstatus RSKM termasuk negeri dan swasta. Karena itu, ia menilai jika sudah bertatus RSKM berarti pemerintah mempercayai mutu pendidikan di sekolah tersebut. Tuntutan lainnya yakni peningkatan kualitas guru. Salah satu caranya dibentuk lewat workshop dan pelatihan semacam ini. Ia mengingatkan guru dalam menyusun RPP dan model pembelajaran hendaknya selalu memperhatikan potensi siswa dan sekolah. Pengembangan kurikulum boleh dilakukan namun tetap mengacu pada potensi masing-masing. Dengan demikian output yang dihasilkan diharapkan memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan sosial. Sumber : BaliPost