Menu

TIK di Sekolah Dipercepat

  • Jumat, 23 November 2007
  • 1153x Dilihat
TIK di Sekolah Dipercepat
Keterbatasan Listrik Jadi Kendala Kuta, Kompas - Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi atau TIK, terutama yang berbasis internet dan komputer, di sekolah dipercepat. Tahun 2008 Departemen Pendidikan Nasional menyediakan anggaran sekitar Rp 1 triliun untuk pembangunan pusat sumber atau resources center di sekolah-sekolah. "Percepatan akses TIK, terutama internet dan komputer, bagi sekolah telah terintegrasi dalam sebuah perencanaan di Departemen Pendidikan Nasional," ujar Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional Lilik Gani. Hal itu diungkapkannya di sela acara International Symposium on Open Distance E-Learning (ISODEL) di Kuta, Bali, Rabu (14/11). Tahun 2008 telah dianggarkan pengadaan pusat sumber belajar untuk level SMA/SMK dan SMP sebesar Rp 500 miliar. Pusat sumber tersebut berbasis multimedia dengan perangkat seperti televisi, DVD, radio, dan komputer berakses internet. Bagi sekolah yang belum mempunyai pusat sumber akan diberikan secara utuh dan bagi yang belum lengkap akan dilengkapi. "Dana terbesar untuk prasarana TIK di sekolah sepertinya baru pada tahun 2008 mendatang. Sebelumnya pembangunan TIK di sekolah sifatnya sporadis dan kurang terpadu," ujar Lilik Gani. Saat ini rasio antara komputer dan jumlah siswa masih 1:50. Padahal, minimal rasio harusnya 1:20. Terlebih lagi dengan adanya target 50 persen SMA, SMK, dan SMP terakses internet. Sejauh ini, sebesar 70 persen SMK di Tanah Air telah mempunyai laboratorium komputer, sedangkan SMA yang mempunyai fasilitas tersebut hanya 30 persen dan SMP sebesar 20 persen. Kendala listrik Lilik mengatakan, TIK berkembang sangat pesat dan perlu diikuti perkembangannya agar Indonesia tidak tertinggal dan hanya menjadi konsumen. Akan tetapi, Lilik mengakui banyak kendala dalam mengembangkan TIK di sekolah, seperti keterbatasan infrastruktur listrik, akses internet yang mahal, serta adaptasi budaya. "Oleh karena itu, untuk komputer dan internet kita memulai dari daerah yang infrastruktur dan sumber daya manusianya telah siap," ujarnya. Dalam acara itu sekitar 50 pembicara dari berbagai negara, seperti Jepang, Singapura, Amerika, Malaysia, Thailand, Pakistan, dan Indonesia, hadir dan berbagi informasi terkait penggunaan TIK dalam dunia pendidikan. Secara terpisah, di Jakarta, pakar teknologi Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, untuk mempercepat penerapan TIK di sekolah, Bappenas harus memiliki perencanaan yang matang. Di sisi lain, pengusaha harus ikut membantu penerapan TIK di dunia pendidikan. "Langkah ini penting agar dunia pendidikan Indonesia tidak tertinggal dari negara lain," ujar Ali dalam "Seminar Transforming Education in Indonesia", Rabu. (INE/A08) Dikutip dari : www.kompas.com