Try Out UASBN SD Diawasi Guru Lain dan para siswa Duduk Berjauhan
kereneng, (pendidikan.denpasarkota.go.id)
Siswa kelas VI SD se-Kota Denpasar mulai, Senin (21/3) kemarin kembali menjalani try out (ujian pemantapan) ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kota Denpasar. Sebanyak 12.512 siswa dari 210 SD negeri dan swasta se-Kota Denpasar mengikuti try out yang berlangsung selama tiga hari. Try out ini digelar dengan harapan para siswa SD peserta UASBN lebih siap menghadapi UASBN yang menurut jadwal berlangsung mulai 10 s.d 12 Mei mendatang.
Mata pelajaran yang diujikan dalam try out ini disesuikan dengan mata pelajaran yang menjadi meteri UASBN yakni Bahasa Indonesia, IPA dan Matematika. Di luar tiga mata pelajaran yang menjadi materi UASBN itu juga diujicobakan mata pelajaran IPS dan PKn yang diujikan pada UAS. Pelaksanaan try out hari pertama kemarin yang mengujikan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPS berjalan lancar. Dari dua mata pelajaran yang diujikan kemarin yakni Bahasa Indonesia dan IPS sejumlah siswa menilai soal-soal Bahasa Indonesia panjang-panjang. ‘’Soal-soal Bahasa Indonesia-nya panjang-panjang banget,’’ ujar seorang siswi SDN 17 Dauh Puri.
Di SDN 17 Dauh Puri, misalnya, ujian pemantapan diikuti 79 siswa, di SD Saraswati 5 Denpasar diikuti 157 siswa. Kepala SDN 17 Dauh Puri, Ida Bagus Dharma Putra, S.Ag., dan Kepala SD Saraswati 5 Denpasar, Dra. Desak Made Asri, M.Psi, mengatakan pelaksanaan try out dikondisikan sama seperti UASBN. Pengawasannya juga dikondisikan sama dengan UASBN, menggunakan sistem silang.
Di SD Negeri 17 Dauh Puri, misalnya, pengawas berasal dari sekolah lain dalam satu gugus yakni dari SD Al-Miftah. Sedangkan guru-guru SDN 17 Dauh Puri bertugas mengawasi try out di SDN 4 Dauh Puri dan SDN 9 Dauh Puri. Dengan kondisi try out yang dikondisikan seperti pelaksanaan UASBN, menurut Ida Bagus Dharma Putra berarti siswa sudah dihadapkan pada UASBN sesungguhnya. Tempat duduknya juga sudah diatur sedemikian rupa, sehingga siswa tidak mungkin nyontek pekerjaan teman. Dengan pola demikian, anak-anak diharapkan lebih termotivasi belajar sendiri.