Program rahina berbahasa Bali bagi siswa di Denpasar kembali akan kembali digiatkan. Terobosan ini dilakukan untuk menghargai kearifan lokal, dan sebagai upaya menyelamatkan bahasa Bali yang makin terpinggirkan dan seolah jadi bahasa ‘’asing’’ bagi manusia Bali sendiri.
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Drs. Wayan Sukana, mengungkapkan, program rahina berbahasa Bali itu akan segera digulirkan tinggal menunggu surat keputusan (SK) Walikota Denpasar. Sebelumnya, pihaknya sudah mengumpulkan para kepala sekolah dan kepala UPT Dikpora Kecamatan. ‘’Program rahina bahasa Bali itu akan kita gulirkan mulai pendidikan anak usia dini (PAUD),’’ kata Wayan Sukana, Selasa (27/9) kemarin.
Menurut Wayan Sukana, meskipun hanya diberlakukan selama satu hari setiap pekannya, atau setiap rerahinan Purnama atau Tilem, paling tidak kita punya setitik harapan bahwa program yang mewajibkan seluruh siswa menggunakan bahasa Bali ini akan menjadi ''rahim'' yang subur bagi "kelahiran" generasi-generasi penutur bahasa Bali baru.
‘’Terus terang, saya cukup tersentak mendengar prediksi menyatakan bahasa Bali akan punah di tahun 2041. Kalau bahasa Bali sampai punah, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Bali ini. Bali akan kehilangan salah satu kekayaannya yang sangat berharga," ujar Wayan Sukana.
Menurut Wayan Sukana, prediksi lain yang menyatakan bahasa Bali tinggal satu generasi saja itu wajib disikapi secara serius. Dikatakan, prediksi itu sejatinya lebih banyak bertujuan untuk membuat manusia Bali jengah sehingga tergugah untuk melakukan upaya-upaya penyelamatan secara terstruktur dan tersistematisasi.
Kendati mengaku tidak yakin seratus persen bahasa Bali akan "terkubur" begitu cepat atau hanya dalam hitungan puluhan tahun, namun argumentasi itu jelas bukan hal yang mengada-ada. ‘’Kalau memang ada niat, saya yakin bahasa Bali juga bisa dimanfaatkan sebagai ilmu pengetahuan. Misalnya, dalam menyampaikan materi pelajaran matematika, fisika, kimia dan sebagainya. Tentu saja, tidak semua istilah bisa serta merta diterjemahkan ke dalam bahasa Bali karena memang belum ada padanannya dalam bahasa Bali,’’ ujarnya.
Dihubungi terpisah pengamat pendidikan, Putu Rumawan Salain, mengapresiasi program Pemkot Denpasar yang kembali akan menggulirkan program rahina berbahasa Bali di sekolah. Menurut dia, sejumlah sekolah di Bali, dan di Denpasar khususnya, sebenarnya sempat menggulirkan program Rahina Mabasa Bali ini.
Sayangnya, setelah beberapa tahun berjalan, gaung program ini nyaris tak terdengar lagi. Diharapkan, pelaksanaan program yang sejatinya bertujuan sangat mulia dalam menyelamatkan bahasa Bali dari ancaman kematian permanen ini tidak sebatas wacana. ‘’Memang harus ada aksi nyata untuk melestarikan bahasa Bali. Generasi muda Bali wajib diperkenalkan dengan bahasa Bali sejak usia dini,’’ katanya.
03 Februari 2026
26 Maret 2026