Menu

Hilangkan Budaya Mencontek

  • Jumat, 29 April 2016
  • 721x Dilihat

Memperoleh indeks integritas tinggi dalam hal penyelenggaraan ujian nasional (UN) merupakan bagian dari kebanggan sekolah. Karena itu, Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Daryanto, mengingatkan agar kepala SMP sederajat di Bali melakukan persiapan pelaksanaan UN  dengan baik, melaksanakan UN berintegritas, jauh dari kecurangan. UN tingkat SMP sederajat akan dilaksanakan pada 9 sampai 12 Mei 2016.

‘’Seluruh sekolah agar menerapkan kejujuran dalam pelaksanaan UN. Buat apa nilai UN tinggi tapi integritasnya rendah karena budaya menyontek tinggi. Yang bagus itu nilai UN dan indeks integritas UN-nya tinggi,” ujar Daryanto saat acara koordinasi pengawasan UN SMP sederajat, Kamis (28/4) kemarin.

Acara koordinasi pengawasan UN SMP sederajat di LPMP Provinsi Bali tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani; Kepala LPMP Provinsi Bali, Dr. Made Alit Mariana, serta kepala SMP se-Kota Denpasar dan Badung.

Daryanto melanjutkan, meski tidak menjadi penentu kelulusan, UN tetap digunakan untuk seleksi masuk ke jenjang sekolah selanjutnya. Sehingga guru diimbau agar tidak menakut-nakuti siswa dalam pelaksanaan UN, namun menciptakan suasana yang ceria dan kondusif dalam menyambut UN.

Menurut Daryanto, selama UN berlangsung diperkirakan akan beredar bermacam kunci jawaban yang dibuat oleh orang tidak bertanggung jawab, dengan tujuan mendapat keuntungan. Untuk itu siswa diimbau tidak tergiur dengan penyebaran kunci jawaban yang justru menyesatkan.

Para orang tua juga diminta memotivasi putra-putrinya untuk belajar menghadapi UN dengan penuh kejujuran. “Kunci itu dijual untuk mendapat keuntungan. Kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Siswa harus percaya dengan kemampuannya dan orang tua harus mendorong,” harapnya.

Daryanto juga menghimbau siswa SMP sederajat peserta UN tak perlu khawatir berlebihan menjalani UN yang kini tak lagi menentukan kelulusan. Manfaatkan UN ini sebagai kesempatan bercermin tentang apa yang sudah diraih dan apa yang akan dilakukan ke depan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, TIA Kusuma Wardhani mengatakan, UN bukan lagi penentu kelulusan, sehingga jangan lagi dianggap sebagai momok. Hal yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan UN tahun ini adalah terselenggaranya UN yang berintegritas.

“Penentu kelulusan itu nilai dari sekolah masing-masing sesuai indikator yang ditetapkan. Yang harus dicapai tahun ini adalah UN berintegritas. Hasil UN harus setara dengan nilai integritasnya. Jangan sampai hasil UN rata-rata tinggi, namun ternyata hasil mencontek. Berarti integritas sekolah bisa tergolong rendah,” jelasnya.

Wardhani menambahkan, untuk menentukan integritas pelaksanaan UN di sekolah, akan dilakukan analisa serta penilaian dari hasil jawaban siswa oleh Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik). Selain itu juga penilaian terhadap laporan pelaksanaan UN di masing-masing satuan. Hasil penilaian akan menentukan indeks integritas sekolah masing-masing, dan diumumkan secara terbuka.

‘’Penilaian integritas ini menuntut semua pihak melaksanakan UN dengan jujur. Tidak hanya siswa, pengawas, hingga petugas penjaga naskah soal,” tegasnya.