PERJUANGAN berat harus dilakoni Komang Krisna Aditya Pratama dan Made Pramanaditya Widiada. Gara-gara terjangkit penyakit demam berdarah (DB), kedua siswa SMAN 1 Denpasar ini terpaksa mengikuti Ujian Nasional (UN) di rumah sakit (RS). Dengan tangan kiri masih digelayuti selang infus, Aditya Pratama mengerjakan soal UN di RSUD Wangaya, sedangkan Pramanaditya Widiada menjawab soal UN di RS Bros.
Keduanya lebih memilih mengerjakan soal UN dengan tangan diinfus ketimbang harus mengikuti UN susulan. Sementara pihak sekolah, sebenarnya merasa lebih senang jika kedua anak didiknya (Aditya Pratama dan Pramanaditya) mengikuti UN susulan mulai Selasa 22 April mendatang dibandingkan harus mengikuti UN dengan kondisi tubuh tidak fit seperti itu.
Tapi, anak itu ngotot ikut UN utama dan merasa nyakin mampu melewati ujian itu dengan baik. ‘’Kami tidak bisa melarang siswa yang sakit mengikuti UN di rumah sakit karena ketentuan yang ada memang membenarkan dan membolehkan siswa mengikuti UN di rumah sakit. Namun, sepanjang kesehatannya memungkinan, dan atas seijin dokter yang merawat,’’ ujar Kepala SMAN 1 Denpasar, Drs. Nyoman Purnajaya, M.Pd.
Kedua siswa ini mengikuti UN di ruang perawatan dengan didampingi dua orang pengawas sesuai ketentuan yang tertuang pada Prosedur Operasional Standar (POS) UN. Serupa dengan pelaksanaan UN di sekolah, dia juga dijatahkan menjawab soal-soal mata pelajaran yang di-UN-kan dalam rentang waktu 120 menit. Pada hari pertama UN, Senin kemarin, keduanya menjawab soal mata pelajaran Bahasa Indonesia pada jam pertama, dan soal mata pelajaran Biologi pada jam kedua.
Menurut Made Widiada, orangtua Pramanaditya Widiada yang setia menunggui putranya mengikuti ujian, Pramanaditya Widiada yang mengantongi nomor peserta UN 01-001-1165 itu mengalami demam tinggi, Jumat (12/5). Mengingat kondisinya sangat lemah, pihaknya memutuskan agar putranya mendapatkan perawatan intensif. ''Anak saya lebih memilih mengerjakan soal ujian di rumah sakit ketimbang harus mengikuti UN susulan,'' ujarnya.
03 Februari 2026
26 Maret 2026