Menu

Made Merta: Hidupkan Program ‘’Rahina Mabasa Bali’’

  • Rabu, 17 September 2014
  • 2939x Dilihat

PROGRAM "Rahina Mabasa Bali" yang pernah digulirkan di sekolah perlu dihidupkan lagi. Meskipun hanya diberlakukan selama satu hari setiap pekannya, paling tidak ada harapan bahwa program yang mewajibkan seluruh siswa menggunakan bahasa Bali ini akan menjadi ''rahim'' yang subur bagi "kelahiran" generasi-generasi penutur bahasa Bali baru.
‘’Kalau bahasa Bali sampai punah, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Bali. Bali akan kehilangan salah satu kekayaannya yang sangat berharga," ujar praktisi pendidikan, Drs. Made Merta, M.Si., Selasa (16/9) kemarin.
Menurut Merta, materi pembelajaran bahasa Bali sangat kental dengan nilai-nilai budaya Bali yang dijiwai oleh ajaran agama Hindu cukup banyak mengandung nilai-nilai karakter bangsa. Materi pelajaran yang meliputi bidang sastra, linguistik, dan sosiolinguistik, termasuk paribasa Bali, tembang Bali, dan lagu-lagu pop Bali sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa.
‘’Sebelum bahasa Bali benar-benar tinggal nama, segenap komponen masyarakat Bali wajib melakukan aksi nyata untuk melestarikannya. Sekecil dan sesederhana apa pun wujud aksi itu, tentu saja jauh lebih baik ketimbang tidak melakukan aksi sama sekali. Generasi muda Bali wajib diperkenalkan dengan bahasa Bali sejak usia dini,’’ tegasnya.
Makanya, menurut dia, segenap komponen masyarakat harus punya komitmen bulat untuk menyelamatkan warisan adiluhung leluhur manusia Bali tersebut. Mulai saat ini, komitmen pelestarian yang disertai aksi nyata itu wajib digulirkan. Jangan ditunda-tunda lagi dan jangan sebatas wacana. Lembaga pendidikan formal atau sekolah dinilai merupakan media yang paling efektif guna menegakkan komitmen itu.
Guna mengokohkan ke-Bali-an itu, Merta yang juga Kabid Bina Program Disdikpora Kota Denpasar ini menambahkan, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah harus diprioritaskan untuk mendukung komitmen pelestarian seni budaya Bali. Ragam ekstrakurikuler yang bisa dibuka di antaranya nyurat aksara Bali, seni prasi (menulis aksara/lukisan Bali di atas daun lontar-red), pesantian, membuat peralatan/sarana upacara keagamaan dan sebagainya.