PENDIDIKAN ADALAH KUNCI LEPAS DARI SAMSARA.
Tahun ini ada hal istimewa ketika kita merayakan hari Pendidikan Nasional, yakni tanggal 2 Mei 2015 bertepatan dengan hari Saraswati (Sabtu Umanis Watugunung). Bagi umat Hindu, kedua hari ini tentu sangat penting sekali, karena dirayakan sebagai hari turunnya Ilmu Pengetahuan ke Dunia, dengan Aksara sebagai Linggasthana Saraswati. Hari yang selalu mengingatkan umat manusia bahwa pengetahuan menjadi sumber kehidupan di dunia dan merupakan persembahan yang paling mulia. Dengan pengetahuan manusia bisa berbuat apa saja sesuai dengan keinginannya. Selalu memuja serta mengamalkan ilmu pengetahuan sebagai ajaran suciNya, manusia diajarkan untuk meningkatkan kualitas iman, ilmu dan amalnya, agar dapat lepas dari awidya, kebodohan yang telah membelenggu manusia dalam lingkaran “Samsara” di dunia ini dan dengan pengetahuan, jiwa manusia menjadi terlepas dari kabut debu-debu dan dosa kehidupan duniawi. Dalam kitab Bhagawadgita disebutkan :
SRAYAN DRAWYAMAYAD YAJNAJ,
JNANAYAJNAH PARANTAPA,
SARWAM KARMA, KHILAM PARTHA,
JNANE PARISAMAPYATE.
(Bhagawadgita, IV.33)
Artinya :
Persembahan berupa ilmu pengetahuan, o, Arjuna lebih mulia dari pada persembahan
materi, dalam keseluruhan kerja ini berpangkal pusat dari ilmu pengetahuan, o, Partha.
Tak bisa dipungkiri bahwa manusia merupakan makhluk yang paling unggul dalam hal berpikir. Dengan berpikirnya manusia mampu merekam kesan dan pesan yang diterimanya melalui indria. Kesan dan pesan itu disimpan dalam pustaka ingatan. Sepanjang hari manusia menerima kesan dan pesan, maka lama kelamaan pustaka ingatan menjadi bertambah terus. Semua itu lalu menjadi pengetahuan. Dari generasi ke generasi manusia menjadi makin pandai. Otak manusia merupakan gudang rekaman yang tidak pernah punah, walaupun sepanjang hayatnya kesan dan pesan itu terus masuk. Namun kesan dan pesan itu ada yang dapat tenggelam untuk sementara atau untuk selamanya dari otak. Manusia mempunyai kemampuann untuk mengabadikan dan mentransfer pengetahuannya itu di dalam wujud gambaran atau simbul-simbul bunyi. Gambar simbul itulah yang disebut orang tulisan, huruf atau aksara.
Berbagai tulisan kuno terwarisi sampai sekarang, dan banyak yang masih terpakai dengan baik dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi canggih saat ini. Dari tulisan itulah terus mengalir berbagai cabang ilmu pengetahuan. Berkat tulisan itu pula manusia dapat menguak tabir rahasia alam dan mampu mengembangkan berbagai teknik komunikasi yang canggih. Berkat tulisan juga, dunia ini menjadi sempit. Penemuan dan pemakaian tulisan atau aksara sebagai linggasthana Saraswati adalah revolusi besar dalam sejarah peradaban manusia memasuki jaman sejarahnya. Dengan tulisan orang dapat mengabadikan dan mewariskan pengetahuannya, peradabannya dan kebudayaannya kepada anak cucu dari generasi ke generasi. Itulah hakekat dari Saraswati, sesuatu yang mempunyai sifat mengalir dan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Hakekat itu kemudian terimplementasi dalam dunia pendidikan.
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk memanusiakan manusia yang didalamnya terkandung ikhtiar luhur dan mulia untuk tidak saja mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu mendidik generasi harapan bangsa sebagai pewaris dan penerus pembangunan manusia. Oleh karena itu berhasil tidaknya pembangunan bangsa sangat tergantung pada sukses tidaknya penyelenggaraan pendidikan. Untuk itu, dalam perayaan Saraswati dan Hardiknas kita lepaskan diri perlahan-lahan dari Samsara dengan pendidikan.