Kurangnya minat baca murid tak hanya karena faktor kemauan, fasilitas yang kurang memadai juga bisa membuat mereka enggan membaca buku. Karena itu, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar mendorong sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMP memperbanyak pojok baca serta menggiatkan program membaca 15 menit sebelum pelajaran sekolah.
‘’Guna meningkatkan minat baca siswa – siswi di sekolah, salah satu caranya mengoptimalkan taman baca atau pojok baca dan fasilitas baca di sekolah. Jika setiap sekolah sudah memiliki taman baca serta fasiltas baca lainnya maka secara tidak langsung akan meningkatkan minat baca dan menambah budaya membaca,’’ ucap Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kota Denpasar, Wayan Gunawan, Rabu (18/10).
Menurut Gunawan, program membaca buku selain buku pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran sekolah tersebut, lanjut dia, sebagai upaya meningkatkan minat baca pelajar yang dinilai semakin menurun. ‘’Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat saat ini, budaya dan minat membaca pelajar cenderung menurun, kendati belum ada data pasti, sehingga perlu ada upaya untuk mengembalikan budaya baca itu,’’ jelas Gunawan.
Dikatakannya, dengan upaya memberikan berbagai ruang fasilitas membaca tersebut, dengan sendirinya budaya membaca itu hadir. Diingatkan pula, pembinaan gerakan membaca di sekolah harus menyasar pada bergeraknya seluruh komponen sekolah serta jejaring literasi untuk menciptakan budaya baca.
‘’Gerak literasi tidak hanya dilakukan di kelas dan di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah dan di masyarakat demi peningkatan kualitas membaca, menulis, dan prestasi akademik,’’ imbuhnya.
Menurut Gunawan, tanpa gerak bersama dan bertahap, program budaya baca hanya terasa hangatnya di awal. Komitmen dan teladan guru serta kepala sekolah merupakan kunci pembuka gerbang literasi sekolah. Ia harus berdiri terdepan dan menunjukkan ia membaca dan menulis.
‘’Tentu, niat geraknya bukan hanya karena memenuhi tuntutan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang pembiasaan membaca pada siswa, tetapi lebih kepada niat investasi pendidikan siswa melalui pembiasaan membaca,’’ pungkasnya.