Pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SMPN 8 Denpasar lain dari biasanya. Senin (11/7) kemarin, MPLS di sekolah ini dipantau senator asal Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III.
Dia mengungkapkan SMPN 8 Denpasar adalah sekolah terbaik di Denpasar. Untuk itu siswanya harus dibentuk menjadi calon pemimpin bangsa masa depan. Dia berharap siswa SMPN 8 Denpasar harus menjadi pemimpin masa depan.
Wedakarna mengaku sengaja datang ke SMPN 8 Denpasar untuk melihat sejauh mana aturan MOS diimplementasikan. Termasuk menjadikan sekolah ini sebagai pelopor program revolusi mental Jokowi. Apalagi mulai tahun ajaran baru ini pemerintah menggalakkan program penumbuhan budi pekerti.
Kepala SMPN 8 Denpasar, I Wayan Murah, S.Pd., mengaku senang mendapat perhatian dari Komisi III DPD-RI yang juga putra Bali. Terkait dengan MPLS, Wayan Murah didampingi Waksek Luh Dian Wahyuni, S.Pd., Wakasek Kurikulum I Made Suryasa, S.Pd., Wakasek Sarpras I Made Suda, Wakasek Kesiswaan I Ketut Weta, Waka Humas Dra. Ni Made Suresti dan Waka Litbang dan Penjamin Mutu I Wayan Kamuja, menegaskan MPLS di SMPN 8 Denpasar bebas dari praktik perpeloncoan.
MPLS ditekankan pada suasana menyenangkan, sejuk dan damai. Dengan demikian MOS banyak diisi dengan kegiatan menggali kreativitas siswa dan ceramah serta cinta lingkungan. MPLS diikuti 398 siswa baru dengan kehadiran 100 persen.
Sementara itu, tim sosialisasi global warming SMPN 8 Denpasar terdiri dari Drs. I Made Arsana, Drs. Edy Sukade, Luh Diah Wahyuni, S.Pd., I Gede Angga Febrianto, S.Pd., I Putu Muliarta, S.Pd., Putu Eka Handayani Murni, S.Pd., IA Fitri Mahayuni, S.Pd., Ni Made Hepi Suwandri, S.Pd., I Wayan Kamuja dan Drs. Gede Restiana memberikan materi soal pemanasan global.
Disebutkan, pemanasan global (global warming) merupakan proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer dan permukaan bumi yang terjadi dari tahun ke tahun. Diperkirakan suhu rata-rata atmosfer bumi telah meningkat 0,740C ± 0,180C selama seratus tahun terakhir.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merupakan sebuah panel ilmiah yang terdiri dari para ilmuan dari seluruh dunia yang bertugas mengevaluasi risiko perubahan iklim akibat aktivitas manusia menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.
Pemanasan global terjadi akibat beberapa hal, di antaranya efek rumah kaca. Disebut gas rumah kaca (GRK) karena sistem kerja gas di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat.
Efek rumah kaca ini sebenarnya sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpa GRK planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 150C (590F) bumi sebenarnya sudah lebih panas 33oC (59oF) dari suhunya semula. Jika tidak terjadi efek rumah kaca suhu bumi hanya -180C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, maka akan mengakibatkan terjadinya pemanasan global.
Minimnya ruang terbuka hijau menyebabkan penyerapan gas CO2 oleh tumbuhan menjadi berkurang. Jumlah kendaraan terus bertambah menyebabkan emisi gas buang dari kendaraan bermotor juga meningkat.
Dampak terjadinya pemanasan global, Iklim mulai tidak stabil, meningkatnya permukaan air laut, terjadinya gangguan ekologis, suhu global cenderung meningkat.
Upaya mengurangi dampak pemanasan global (global warming). Di antaranya, melakukan reboisasi,memakai bahan bakar alami dan ramah lingkungan, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, tidak menebang pohon sembarangan, membuat ventilasi rumah yang cukup dan menghemat penggunaaan energi listrik.
03 Februari 2026
26 Maret 2026