Menu

SMAN 8 Denpasar Jadikan UN Dorong Revolusi Mental

  • Kamis, 07 April 2016
  • 901x Dilihat

Hari terakhir pelaksanaan ujian nasional (UN) berbasis kertas atau paper based test (PBT) untuk jenjang SMA, Rabu (6/4), terpantau aman dan kondusif. Pelaksanaan UN yang berlangsung selama tiga hari, dan hari terakhir UN di tutup dengan mata pelajaran Bahasa Inggris dan Fisika untuk program IPA serta Bahasa Inggris dan Ekonomi (program IPS).

Terlihat di SMAN 8 Denpasar (Smapan), para peserta ujian tampak serius mengerjakan soal demi soal. Pelaksanaan UN hari terakhir di sekolah ini dimonitoring oleh Kabid Pendidikan Menengah Disdikpora Kota Denpasar, Wayan Supartha diterima langsung Kepala SMAN 8 Denpasar, Drs. Ida Bagus Ngurah, M.Si.

‘’Astungkara, sampai UN terakhir hari ini (kemarin) berjalan dengan lancar dan kondusif, dan selama tiga hari pelaksaan UN tidak ada kendala,” ujar Ida Bagus Ngurah.

Ida Bagus Ngurah mengatakan, jumlah peserta UN di SMAN 8 Denpasar tahun ini 565 siswa. Terdiri dari 421 siswa program IPA dan 144 siswa program IPS. Mereka tersebar pada 30 ruangan ujian.

Ida Bagus Ngurah berharap, dengan selesainya para siswa melaksanakan ujian, tidak ada melakukan tindakan-tindakan yang tak sepantasnya, seperti coret-coret dan konvoi di jalanan yang bisa merugikan banyak kalangan.

Ida Bagus Ngurah mengungkapkan, adanya indeks integritas yang diterapkan pada pelaksanaan UN tahun ini dapat mendorong perubahan revolusi mental. Artinya, siswa tak hanya didorong pada progress keberhasilan, melainkan proses dalam mencapai keberhasilan dengan mengutamakan kejujuran.

Ini sesuai dengan visi SMAN 8 Denpasar ‘’Unggul mutu yang berbudaya dan berbudi pakerti’’. Karenanya, momentum pelaksanaan UN ini dimanfaatkan sebagai ajang menguji kejujuran siswa untuk kecemerlangan di masa depan.

Kabid Dikmen Wayan Supartha mengaku puas dengan pelaksanaan UN di SMAN 8 Denpasar yang berjalan tertib dan kondusif. Ia juga memaknai pelaksanaan UN berintegritas  ini sangat pas dipakai sebagai potret renungan bagi sekolah dalam mengemban tanggung jawab mulia dalam pencerahan dan peningkatan kualitas SDM.

Smapan dikatakan Supartha, harus berpikir optimis ke depan terhadap kesadaran akan kehidupan dengan jawaban prestasi yang lebih baik dan lebih baik. Ia juga mengajak warga sekolah melihat tantangan kekinian dan masa depan.

Karenanya, kepekaan semua warga sekolah, termasuk komite diperlukan untuk mengawal revolusi mental lewat dunia pendidikan. ‘’Kepala sekolah adalah tokoh sentral, dituntut melakukan revolusi kinerja. Revolusi kepala sekolah ini jadi kunci kesuksesan,’’ tegasnya.