Menu

UNPK Paket C Diikuti 392 Peserta

  • Senin, 14 April 2014
  • 3066x Dilihat

Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket C (setara SMA) periode I di Bali dimulai Senin (14/4) kemarin hingga Rabu (16/4) mendatang, diikuti 1.720 peserta. Khusus untuk Kota Denpasar ujian tersebut diikuti 392 orang, berlangsung di SMPN 1 Denpasar. Peserta UNPK Paket C tersebut berasal dari Program IPS sebanyak 387 orang dan Program IPA sebanyak lima orang.
Pada hari pertama ujian kemarin, para peserta program IPS berhadapan dengan soal-soal Bahasa Indonesia dan Geografi. Pada hari selanjutnya mereka akan menjawab soal-soal PKn, Matematika, Sosiologi, Bahasa Inggris dan Ekonomi. Sedangkan peserta Program IPA pada hari pertama kemarin berhadapan dengan soal-soal Bahasa Indonesia dan Biologi. Selanjutnya mereka menjawab soal PKn, Matematika, Kimia, Bahasa Inggris dan Fisika.
Pengawasan UNPK juga ketat. Tiap ruangan diawasi dua pengawas. Peserta dilarang membawa HP ke ruangan. Pada UNPK Paket C kali ini, peserta tertua atas nama I Made Supatra Karang kelahiran 31 Desember 1956 dari PKBM Tunas Bangsa, sedangkan peserta termuda atas nama Vania Chirstina Santosa dari PKBM Niti Mandala Club. Dalam menjawab soal-soal mereka disediakan waktu 120 menit pada masing-masing mata pelajaran dalam bentuk soal multiple choise (pilihan ganda).
Pelaksanaan UNPK Paket C hari pertama di Kota Denpasar dipantau langsung Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, Ir. IGN Eddy Mulya, S.E., M.Si. UNPK Paket C di Denpasar juga dikawal 13 orang pengawas satuan pendidikan dari dosen Unud. Selain itu juga dipantau oleh BSNP serta staf ahli Bidang Kerjasama Internasional Kemendikbud, Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA.
Kadisdikpora IGN Eddy Mulya, mengatakan, UNPK Kejar Paket ini merupakan salah satu evaluasi mengukur kemampuan peserta didik di PKBM-PKBM. Mereka yang lulus Kejar Paket C, ijazahnya setara dengan SMA, dan bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Eddy Mulya memberi apresiasi dengan semakin meningkatnya kualitas dan kuantitas penyelenggaraan proses belajar di PKBM. Dan, masyarakat yang memiliki kesempatan terbatas untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal, pemerintah menyediakan kesempatan untuk mengakses pendidikan di lembaga pendidikan nonformal. Hal itu dalam rangka meningkatkan aksesbilitas pendidikan.
Pendidikan non-formal dan formal, kata Eddy Mulya, memiliki kualitas yang setara. Jadi out put yang dihasilkan dari kejar paket setara dengan kualitas yang dihasilkan dari pendidikan formal. Karena itu, lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan non-formal diharapkan mendapat tempat di hati masyarakat, karena lulusan yang dihasilkan benar-benar sama dengan sekolah formal.
Untuk bisa meraih predikat lulus, peserta UNPK memiliki rata-rata Nilai Akhir (NA) dari seluruh mata pelajaran yang diujikan mencapai paling rending 5,5, dan NA setiap mata pelajaran paling rendah 4,0. Jadi, standar nilai kelulusannya sama persis dengan UN di sekolah formal.