Menu

UPT SKB Disdikpora Gelar Pelatihan Membuat Banten

  • Senin, 06 Juni 2016
  • 1117x Dilihat

Banten (uparengga) adalah sesuatu yang sangat tidak asing bagi masyarakat Hindu umumnya dan khususnya di Bali. Setiap kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan selalu tidak dapat lepas dari banten, dan banten selalu mewarnai dalam setiap kehidupan umat Hindu Bali.

Seiring perkembangan zaman yang semakin cepat dan perkembangan teknologi yang semakin canggih, serta ditambah kesibukan manusia sehingga tidak mempunyai waktu dalam membuat uparengga di rumahnya. Alternatif yang dipakai adalah dengan cara membeli dari pada tidak punya.

‘’Disinilah seharusnya umat lebih jeli dalam membeli banten maupun sarana upacara lainnya. Pasalnya, ada sebagian di antara pedagang banten yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah dalam ajaran agama Hindu. Karena itu, beli banten yang benar,’’ ujar praktisi uparengga, IB Anom saat pelatihan membuat banten yang diselenggarakan UPT SKB Disdikpora Kota Denpasar, Jumat (3/6) malam lalu.

Kepala UPT SKB Disdikpora Kota Denpasar, Ni Made Sugiantini, S.Pd., MPd.H., mengungkapkan, pelatihan membuat banten yang dikemas dalam kegiatan pendidikan kewirausahaan masyarakat (PKM) ini diikuti sedikitnya 20 orang ibu-ibu di lingkungan Desa Penatih Dangin Puri dan Kelurahan Penatih. Pelatihan berlangsung selama 48 hari.

Menurut Sugiantini, sebagai umat Hindu tidak terlepas dari yadnya yang dilaksanakan sehari-hari. Karenanya, peserta yang telah mengikuti pelatihan ini diharapkan dapat menularkan kemampuannya kepada keluarga di lingkungan tempat tinggal atau masyarakat lainnya, dan lebih dari itu diharapkan bisa berwirausaha menjual banten.

Selama pelatihan ini, peserta diajak praktik langsung membuat banten mulai dari membuat tamiang, sampian gantung hingga banten pulagembal. Yang menarik peserta juga diajarkan dasar komunikasi serta etika bekerja. “Peserta pelatihan juga diberikan pemahaman tentang makna dari banten tersebut,” ujarnya.

Hal itu dibenarkan IB Anom. Dalam membuat banten hendaknya jangan sampai tidak memahami makna dari baten sehingga tidak menimbulkan pemahaman mule keto (memang kayak gitu). Semua banten sekecil apa pun yang dipakai sesajen memiliki makna sangat tinggi, sehingga dalam melaksanakan upacara tahu kepada siapa harus dipersembahkan sesajen tersebut.

Ditegaskan, pada dasarnya banten itu adalah lambang dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, manusia, dan alam itu sendiri. ‘’Oleh karena itu, banten menjadi alat bantu atau sarana bagi umat Hindu dalam mewujudkan keinginan, bhakti dan cinta kasihnya kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa,’’ pungkasnya.