Jika masyarakat masih ingin menegakkan kebudayaan Bali, sastra dan bahasa Bali perlu mendapatkan perhatian. Bahasa, aksara dan sastra Bali tiang penyangga budaya Bali. Karena itu bahasa Bali perlu dilestarikan.
‘’Dalam rangka menjaga keajegan Bali, bahasa Bali mesti mendapat perhatian. Jika bahasa, aksara dan sastra Bali tidak lestari, jati diri orang Bali akan pudar. Dalam rangka melestarikan bahasa, aksara dan sastra Bali, guru-guru bahasa Bali sebagai ujung tombak penting terus ditingkatkan profesionalismenya,’’ kata penekun sastra Bali, Drs. Made Merta, M.Si., Sabtu (5/12).
Dengan semakin profesionalnya para guru bahasa Bali diharapkan akan berimbas pada anak didik. Sebab, generasi muda Balilah yang akan mewarisi bahasa Bali. Di pundak mereka, bahasa Bali diharapkan terus hidup dan terhindar dari kepunahan.
Bagaimana dengan zaman modern ini banyak yang merasa malu menggunakan bahasa Bali. Banyak kita temui anak-anak di perkotaan lebih paham menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Bali, padahal bahasa Bali merupakan bahasa ibu.
Menurut Merta, para orangtua seharusnya mengajari anaknya menggunakan bahasa Bali yang baik dan benar. Kalau tidak ditanamkan sejak dini, bahasa Bali lambat laun akan lenyap, tenggelam ditelan zaman. ‘’Kita bisa mengajegkan Bali dengan menggunakan bahasa Bali mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat,’’ ujar Kabid Bina Program Disdikpora Kota Denpasar ini.
Lebih lanjut dikatakan Merta, seminar-seminar yang membahas tentang pentingnya berbahasa Bali sangat perlu digelar. Termasuk lomba-lomba tentang bahasa Bali dan berbagai kegiatan yang dapat melestarikan bahasa Bali dan mampu membuat masyarakat Bali terutama putra putri Bali merasa bangga menggunakan bahasa Bali serta mencintai bahasanya sendiri, harus sering digelar. ‘’Mari kita ajegang Bali dengan menggunakan bahasa Bali dalam pergulan sehari-hari,’’ ajaknya.
03 Februari 2026
26 Maret 2026