Menu

Disdikpora Denpasar Gelar Workshop Pendidikan Inklusif

  • Rabu, 28 Maret 2018
  • 1506x Dilihat

Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan pendidikan inklusif. Salah satunya, menyelenggarakan workshop bagi pendidik. Kegiatan workshop yang digelar di aula Widya Utama Disdikpora Kota Denpasar ini berlangsung selama empat hari mulai Selasa (27/3) kemarin hingga Sabtu (31/3) mendatang.

Kasi Kurikulum dan Penilaian Bidang PAUD dan PNF Disdikpora Kota Denpasar, Dra. Made Ayu Sulastri Ariani, M.Si., mengatakan, acara ini diikuti 80 pendidik. Rincinya 34 orang dari lembaga PAUD, SD (12 orang), SMP (8 orang), Pusat Layanan Autis (6 orang), PKBM (2 orang) dan pengawas TK (18 orang). Mereka nanti akan menjadi pendamping dari anak berkebutuhan khusus di sekolah masing-masing. Baik anak-anak yang lamban dalam belajar, tunanetra, tunawicara, tunagrahita dan lainnya.

”Gurunya kami latih agar anak-anak berkebutuhan khusus bisa mendapatkan pelajaran sesuai yang dibutuhkan,” ujar Made Sulastri.

Ia menambahkan, Hal itu sesuai amanat UUD 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pihaknya berharap para pendidik yang mengikuti workshop ini bisa bekerja maksimal. Ini sejalan dengan tema workshop ‘’Peningkatan kompetensi guru dalam menangani anak berkebutuhan khusus sebagai wujud Denpasar Kota Layak Anak’’.

Bahkan diharapkan agar bisa berbagi pengetahuan dengan guru lainnya. Sehingga pengetahuan tentang pendidikan inklusif semakin merata dan anak berkebutuhan khusus terlayani dengan baik dan maksimal.

‘’Pendidik yang mengikuti workshop ini kami harapkan memiliki pengalaman emprik yang lebih luas sebagai modal memahami anak berkebutuhan khusus, sehingga dapat memberikan pengetahuan kepada anak berkebutuhan khusus untuk beradaptasi di masyarakat,’’ katanya.

Made Sulastri menambahkan, banyak materi yang diajarkan dalam workshop. Di antaranya, kebijakan dan implementasi di satuan pendidikan reguler, implementasi pendidikan inklusif di satuan pendidikan reguler, identifikasi dan assessment anak berkebutuhan khusus.

Kemudian praktik penyusunan identifikasi dan asessement anak berkebutuhan khusus, manajemen pendidikan inklusif, model pembelajaran di sekolah inklusif, dan penilaian hasil belajar sekolah penyelenggara inklusif. Pematerinya, didatangkan dari Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Di antaranya, Kabid Pembinaan Pendidikan Khusus Disdik Bali, I Made Widhi Dharma, SE., Ak., M.Si.;  Kasi Kurikulum dan Penilaian Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus, Drs. I Wayan Gede Jagra, M.Pd., praktisi pendidikan Dra. Ni Wayan Ratih Tritamanti, M.Pd., dan Drs. I Ketut Sumartawan, M.Phil.,SNE.

Kabid Pembinaan Pendidikan Khusus Disdik Bali, I Made Widhi Dharma mengungkapkan,  pendidikan inklusif di Bali perlu ditingkatkan, baik secara kualitas dan kuantitas. Ia berharap semua komponen pendidikan memahami arti pentingnya pendidikan inklusif.

Dalam memberikan pengajaran, sambung Widhi Dharma, para guru pendamping harus memberikan pendidikan yang menyenangkan bagi anak yang berkemampuan khusus. Dengan begitu bisa memininimalisai kegagalan serta dapat memahami model pembelajaran dan pelayanan. ”Responsnya sangat baik. Guru yang mengikuti wokshop ini punya komitmen tinggi, luar biasa,” urainya.