Menu

Janger SMPN 9 Denpasar Angkat Lakon ‘’Sunda dan Upasunda’’

  • Selasa, 17 April 2018
  • 1624x Dilihat

Siswa-siswi SMPN 9 Denpasar yang tergabung dalam Sanggar Seni Gita Suara Spensya dipercaya mengisi agenda Parade Janger Kreasi Pesona Budaya Bali Gelar Seni Akhir Pekan (GASP) Bali Mandara Nawanatya III, Sabtu (14/4) malam lalu. Penampilan Janger oleh seniman cilik SMPN 9 Denpasar dengan lakon ‘’Sunda dan Upasunda’’ sukses memukau ribuan penonton yang memadati Kalangan Ayodhya Taman Budaya Art Centre.

Sanggar Seni Gita Suara Spensya SMPN 9 Denpasar tampil bersama sanggar seni SMPN 2 Dawan, Klungkung. Garapan Janger SMPN 9 Denpasar selain menyedot perhatian penonton, juga mendapat apresiasi luar biasa dari pengamat seni, Prof. Dr. I Made Bandem, MA., yang turut menyaksikan pementasan sampai tuntas.

Dalam pementasan Janger itu, SMPN 9 Denpasar memboyong 50-an penari dan penabuh. Janger ‘’Sunda dan Upasunda’’ dalam pembabakannya menceritakan suatu kerajaan Amberasari dengan Raja Sunda dan Upasunda. Raja ini terkenal amat sakti, teguh, matraguna, dan tidak terkalahkan. Pada suatu hari raja kakak beradik ini berjalan-jalan melihat-lihat wilayah kerajaannya. Sampai akhirnya beliau dalam suatu kegelapan di dalam hutan. Karena kehausan akan kesaktiannya, agar bisa mengalahkan surga maka beliau bertapa.

Niatnya ini tercium oleh para dewa di surga, oleh karena itu diutuslah bidadari Tilotama untuk menggodanya. Berkat kecerdikan dan keharuman bodi sang bidadari Tolotama, kedua raja ini terbangun dari tapanya. Sunda terpesona, dan terjalin percintaan yang amat mesra. Melihat fenomena ini Upasunda marah, ingin merebut Tilotama dari pelukan Sunda. Perang terjadi antar dua bersaudara. Semua pepohonan dalam hutan menjadi sedih. Kedunya gugur, Tilotama kembali ke surga.

Penata tari, Anak Agung Sri, S.Pd., M.Si., Ni Kadek Aryawati, S.Pd., M.Pd., dan Luh Sudarmi, S.Pd., serta penata tabuh Drs. Anak Agung Gde Tresna, M.Si., I Nyoman Redana, S.Pd., dan Komang Murtia, S.Pd., mengungkapkan, amanah dari pertunjukan ini, marilah kita semua menghargai, saling menghormati sesama, lebih-lebih wanita. Wanita kekhasannya adalah sebagai pelanjut keturunan di dunia pada ini, jangan karena wanita bisa hancur.

‘’Bercerminlah pada jaman Tretayuga, Kertayuga, dan jaman Durapanayuga. Semua kehancuran dunia ini disebabkan karena pelecehan terhadap wanita. Dimana wanita dihormati, disana akan muncul kebahagiaan. Pelecehan yang terjadi terhadap wanita akan muncul pula kehancuran,’’ ujarnya.

Penanggung Jawab sekaligus Kepala SMPN 9 Denpasar, Drs. Made Arawan, MM., mengungkapkan, Janger merupakan salah satu jenis tari Bali yang tergolong dari pergaulan, yang biasa dipentaskan pada saat-saat senggang setelah musim-musim tertentu, seperti musim panen. Kali ini, lagu-lagu Janger yang dibawakan pun berkaitan dengan pembelajaran di sekolah, seperti penanaman pendidikan budi pekerti, pendidikan agama Hindu dan kehidupan anak muda jaman now.

Arawan juga menyampaikan terima kasih kepada orangtua siswa yang telah mendukung penampilan siswa di acara Gelar Kreativitas Seni Pelajar Bali Mandara Nawanatya III ini. Ia berharap, penampilan siswa di acara ini dapat memberi pengalaman hidup bagi siswa, sekaligus mendidik mereka bahwa kehidupan harus diisi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.