UMAT Hindu di Bali, pada Budha Kliwon Wuku Sinta, Rabu (8/10) ini merayakan hari suci Pagerwesi. Yang istimewa lagi, Pagerwesi yang dilaksanakan tiap 210 hari sekali ini, kali ini bertepatan dengan Purnama Kapat. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari suci untuk semua umat Hindu. Apa sesungguhnya makna Pagerwesi bagi umat Hindu?
Penekun sastra Bali, Drs. Made Merta, M.Si., mengungkapkan, dalam perayaan Pagerwesi umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam manifestasinya sebagai Batara Hyang Guru atau Pramesti Guru untuk memohon keselamatan lahir-batin. Sanghyang Paramesti Guru adalah nama lain dari Dewa Siwa sebagai manifestasi Tuhan untuk melebur segala hal yang buruk. ‘’Dalam kedudukannya sebagai Sanghyang Pramesti Guru, beliau menjadi gurunya alam semesta terutama manusia. Hidup tanpa guru sama dengan hidup tanpa penuntun, sehingga tanpa arah dan segala tindakan jadi ngawur,’’ ulas Made Merta, Selasa (7/10) kemarin.
Lanjut dikatakan Made Merta, dalam Lontar Sundarigama disebutkan Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwatumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh. Artinya, Budha Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.
Karena itu, tegas Made Merta, Pagerwesi bermakna meningkatkan keteguhan iman, sebagai rangkaian hari raya Saraswati. Lebih dari itu, pada Pagerwesi adalah hari yang paling baik mendekatkan atman kepada brahman sebagai guru sejati. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "pager besi" untuk melindungi hidup kita di dunia ini.
Dalam menghadapi kehidupan, ulas Made Merta, senjata yang paling utama untuk melindungi diri adalah ilmu pengetahuan. Ilmu yang kita peroleh lewat belajar di bangku sekolah formal maupun nonformal adalah pagar yang kuat untuk melindunggi diri. Dalam bahasa yang sederhana adalah dengan kecerdasan yang dimiliki, umat mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, membantu diri terhindar dari kemelaratan, kebodohan, dan sebagainya.
‘’Kita harus tetap eling. Setelah umat mendapatkan kaweruhan (ilmu pengetahuan), pengetahuan itulah dijadikan benteng yang kuat, memagari diri menghadapi tantangan hidup atau bekal untuk mencapai tujuan hidup—kesejahteraan dan ketenangan batin,’’ terang Made Merta, yang Kabid Bina Program Disdikpora Kota Denpasar ini.
Dalam perayaan Pagerwesi, lanjut Made Merta, umat juga diajarkan tentang kewaspadaan menghadapi berbagai tantangan. Upacara persembahyangan adalah syarat awal untuk memohon kekuatan lahir-bhatin. Memuja Sang Hyang Widhi adalah mutlak dan wajib dilakukan oleh umat untuk memohon anugrah. Tak hanya pada saat hari raya, tapi setiap hari. ‘’Jika kita semua sudah eling, apa yang kita cita-citakan mengajegkan Bali dan nusantara akan tercapai,’’ tegasnya.
Dia menyebutkan, saat ini kita menghadapi berbagai tantangan. Kita sejatinya diajarkan menarik diri kedalam atau berenung. Dengan demikian kita dapat dengan jelas melihat persoalan sehingga mampu mencari solusi pemecahannya atau memperoleh jalan yang terang tetap berada di jalur kebenaran (satya).