Menu

Sambut Hari Sumpah Pemuda, Disdikpora Gelar Talkshow Young Wild & Free?

  • Sabtu, 07 Oktober 2023
  • 413x Dilihat

DENPASAR – Dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda ke-95 tahun 2023, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar melalui Bidang Pemuda dan Olahraga menggelar Talkshow ‘Young Wild & Free?’ pada Jumat (6/7/2023) pagi di Ruang Diskusi DNA Creative Hub.

Acara tersebut dihadiri puluhan siswa dari SMA/SMK dan organisasi kepemudaan di Kota Denpasar, dengan narasumber Psikolog Klinis, Nadia Rastafary, M.Psi., Psikolog.

Selama acara, Psikolog Nadia Rastafary memaparkan materi mengenai Mental Health, Sexual Abuse serta Toxic Relationship, yang mana ketiga hal tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan kaum muda saat ini. Ketika anak memiliki kesehatan mental yang stabil, mereka dapat berpikir jernih, mengembangkan kepercayaan diri, membangun harga diri, hingga mampu mengelola emosi.

“Yang dapat mengganggu kesehatan mental remaja saat ini adalah kesulitan beradaptasi dan diterima oleh lingkungan sekitar, tantangan akademik serta permasalahan hubungan dengan sebayar (teman dan/atau pasangan),” tutur Nadia.

Nadia Rastafary juga mengutarakan soal toxic relationship atau hubungan beracun. Toxic relationship adalah istilah untuk menggambarkan suatu hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun kesehatan mental seseorang. Hubungan ini tidak hanya bisa terjadi pada sepasang kekasih, tapi juga dalam lingkungan teman, friendzone, bahkan keluarga.

“Hubungan yang buruk tidak bisa disepelekan begitu saja, karena bagaimanapun juga toxic relationship bisa memberikan dampak buruk. Terlebih sudah melibatkan kekerasan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kekerasan dalam hubungan terbagi dalam empat jenis, yaitu kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual, dan kekerasan finansial. Ketika mengalami hubungan tidak sehat secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan mental secara umum.

Data pengaduan Komnas Perempuan sepanjang tahun 2022 menunjukkan kekerasan seksual sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dominan (2.228 kasus/38.21%) diikuti kekerasan psikis (2.083 kasus/35,72%). Sedangkan data dari lembaga layanan didominasi oleh kekerasan dalam bentuk fisik (6.001 kasus/38.8%), diikuti dengan kekerasan seksual (4.102 kasus/26.52%). Jika dilihat lebih terperinci pada data pengaduan ke Komnas Perempuan di ranah publik, kekerasan seksual selalu yang tertinggi (1.127 kasus).

Karena itu, kata Nadia, para remaja wajib memperhatikan kesehatan mental yang mempengaruhi bagaimana remaja menemukan jati dirinya. Bagaimana tampil baik secara akademik di sekolah, belajar di sekolah, mengekplorasi minat bakat dan membangun relasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Apa yang harus dilakukan ketika remaja mengalami gangguan kesehatan mental? Nadia mengatakan, pentingnya pertolongan pertama kesehatan mental atau Mental Health First Aid (MHFA).

Ia menerangkan bahwa peran tenaga profesional sangat dibutuhkan. Misalnya dalam layanan konseling dari psikolog, psikiater, konselor, atau tokoh agama.

“Seseorang harus menyadari dirinya sedang tidak baik-baik saja, dengan ciri-ciri tidak mampu beraktivitas secara normal dan menyadari ada yang salah dengan dirinya. Maka segeralah menghubungi tenaga profesional,” tutur Nadia.

Sementara itu, dihubungi di akhir acara, mewakili Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar, Michael Josafat P, S.IP., selaku Analis Kepemudaan berharap acara talkshow ini kaum muda atau remaja dapat lebih aware dan berkontribusi bagi lingkungan masing-masing, seperti di sekolah, lingkungan rumah ataupun lingkungan pergaulan mereka.

“Kami percaya bahwa pemuda bukan menjadi beban negara ini namun pemuda adalah modal dan aset bagi perubahan bangsa,” ucap Michael.(psm/bpn/pk)