Menu

Sanksi Tegas untuk Siswa yang Terlibat Geng Motor

  • Jumat, 28 Oktober 2016
  • 2527x Dilihat

AKSI radikal yang dilakukan oleh remaja seakan semakin berani. Aksi terbaru yang hangat menjadi perbincangan adalah pelemparan rumah duka dan kamar jenazah RSUP Sanglah oleh geng motor. Dalam kasus itu, lima remaja yang masih berstatus pelajar SMP diciduk polisi.

Pengamat pendidikan Putu Rumawan Salain menilai, keberanian yang timbul dari remaja tersebut muncul karena berada dalam suatu kumpulan. Sebab, jika berdiri sebagai individu, mereka tidak akan melakukan aksi senekat itu.

Dia mengungkap, usia remaja merupakan ajang untuk mencari identitas diri. Sehingga, lanjutnya, kejadian tersebut bukan tidak mungkin akan terus berulang. ‘’Bisa saja itu karena iseng atau emosi. Namanya remaja sedang proses aktualisasi diri dan mencari identitas diri," jelasnya, Kamis (27/10) kemarin.

Menurut Rumawan Salain, pihak sekolah berperan penting dalam upaya menekan angka radikalisasi di kalangan pelajar. Salah satunya dengan menetapkan dan menerapkan peraturan yang tegas bagi pelajar yang terbukti melakukan aksi radikal.

‘’Saya kira, penerapan aturan yang tegas di sekolah sudah benar, seperti mengembalikan siswa kepada orangtua jika terbukti melakukan tindak kriminal. Tapi, aturan sejak awal harus tegas, jangan di tengah saja. Karena dengan demikian akan menimbulkan efek jera," urai Rumawan Salain.

Dia menegaskan bahwa kenakalan remaja sangat rentan mengarah ke tindak kriminal dikarenakan tidak tepatnya pola pendidikan. Namun demikian, sebagai langkah antisipasi menurutnya perlu perhatian semua pihak secara khusus kepada kalangan remaja.

“Kata kuncinya adalah rumah. Rumah harus menjadi tumpuan dan muara segala permasalahan anak sebelum menjadi tindakan menyalahi hukum dan norma. Dalam psikologi, usia 13-18 tahun merupakan usia rentan dimana anak sudah menganggap dirinya dewasa. Sedangkan orang tua masih menganggapnya anak-anak,” ujarnya.

Menurutnya, perlu ada komunikasi yang dibangun mulai dari keluarga dengan memberikan penghargaan kepada anak dan tidak menyakiti harga dirinya sebagai manusia yang sedang mencari jati diri. Selain itu peran guru juga sangat penting karena guru merupakan figur yang dicontoh oleh murid. Rasa aman dan pengakuan yang utuh merupakan hal yang dicari oleh remaja.

Namun Ia sangat menyayangkan tidak adanya pola kerjasama yang baik antara pendidikan yang diberikan orang tua dan sekolah. Terlebih saat ini peran pendidikan dari orang tua lebih banyak dilimpahkan kepada sekolah sehingga membuat guru mengalami kesulitan.

Situasi Kota Denpasar yang sudah termasuk kota metropolitan juga dikhawatirkan dapat menjadi bom waktu terjadinya kasus kenakalan remaja yang lebih besar dibandingkan saat ini, jika tidak ada langkah antisipasi serius dari berbagai pihak.