Kasus geng motor yang diduga melibatkan siswa SMA Dwijendra direspons cepat oleh Yayasan Dwijendra. Sebanyak 145 siswa bersama orangtuanya dihadirkan di aula Yayasan Dwijendra, Rabu (2/11) kemarin.
Mereka diberi pembinaan dan pengarahan oleh Danunit Inteldim 1611/Badung, Lettu Inf Bagus Kusnandar. Acara dihadiri Kepala SMA Dwijendra Ida Bagus Alit Bajra Manuaba, S.Pd., dan Sekretaris Yayasan Dwijendra, Ir. I Wayan Abdi Negara, M.Si.,
Para siswa ditanamkan jiwa kepahlawanan, bela negara dan cinta Tanah Air. Para siswa ini juga ditayangkan film Pahlawanku agar mereka kelak menjadi pemimpin masa depan dan bukan menjadi anggota ormas dan menjadi ketua geng motor.
Bagus Kusnandar mengatakan masa depan anak muda Bali harus diselamatkan. Jangan sampai kumpul-kumpul yang tak jelas keberadaanya misalnya mengisap lem, narkoba dan kebut-kebutan. Dengan demikian kasus Sabtu (29/10) malam di Jalan Menuh, tak terulang di Denpasar.
‘’Bali itu kecil, jangan dirusak. Patuhi orangtua di rumah, patuhi guru di sekolah, dan jangan lupa sembahyang,’’ ucap Bagus Kusnandar mengingatkan para siswa.
Para orangtua siswa dan guru yang hadir dipertemuan itu mengaku khawatir dengan kondisi siswa dan anaknya agar tak salah pergaulan. Karenanya, para orangtua mendesak agar mereka membubarkan segala jenis bentuk geng motor.
Kia Sanciha bersama rekan-rekannya langsung meresponnya dengan secara resmi membubarkan Geng Crush. Dia mengaku organisasi ini dibuat bareng-bareng. Dia pun ditunjuk menjadi ketua bukan meminta melainkan atas desakan rekan-rekannya.
Selama dua tahun berjalan tak pernah berbuat negatif. Kasus Sabtu malam lalu, akibat ulah rekannya di Crush yang mencoba menjadi pahlawan untuk memisahkan korban yang dipukuli, hanya saja salah caranya.
Namun dia tegaskan Crush bukan bajingan, bukan sampah masyarakat namun remaja yang ingin mencari jati diri. Pernyataan itu mendapat aplus kompak rekan-rekannya. Kia Sanciha pun menyatakan Crush dibubarkan.
Kepala SMA Dwijendra Denpasar, Ida Bagus Alit Bajra Manuaba langsung memberikan surat pernyataan diisi siswa dan orangtua siswa. Intinya jika siswa yang bersangkutan melanggar aturan sekolah dan berhubngan dengan tindak kriminal, mereka akan dikembalikan kepada orangtuanya.
Dia juga menginterograsi siswanya yang menyatakan bahwa Crush ini hanya memiliki agenda kumpul-kumpul untuk kegiatan olahraga. Pelaku utama penusukan Sabtu malam lalu sudah enam kali melakukan penebasan, namun tak pernah ditangkap.
Alit Bajra Manuaba mengungkapkan geng Crush ini memaparkan kasus ini bermula ketika kelompok Crush dari SMA Dwijendra mau berangkat ke bazar. Di Jl. Menuh ada tiga kelompok yakni Crush dan dua geng lainnya yang akan ke bazar.
Kelompok pertama menghadang mobil jazz, tak berhenti lalu dikeprok kacanya. Karena kelompok Crush kenal dengan korban pembawa mobil jazz, ikut membelanya.
Komunitas Crush ini tak termasuk geng motor, melainkan hanya intens di cabang olahraga. Bahkan mereka mengaku tak pernah ikut trek-trekkan. ‘’Kami menyayangkan pemberitaan baik online maupun cetak atas pemberitaan yang terkesan terburu-buru, dan atas pemberitaan tersebut nama baik sekolah kami menjadi tercoreng,’’ pungkas Alit Bajra Manuaba.
03 Februari 2026
26 Maret 2026