Tanamkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Guna menyambut 50 Tahun SD Santo Yoseph 1 Denpasar, Kamis (4/6) kemarin digelar program kegiatan yakni menanamkan kepedulian lingkungan pada anak. Seperti membuat pupuk kompos. Hasil praktik siswa ini, nanti akan digunakan sebagai pupuk untuk tanaman gaharu di Klungkung.
Hal itu dikemukakan Kepala SD Santo Yoseph 1 Denpasar R.Y. Hendiyathi, S.Pd. kepada wartawan di sela-sela acara perkenalan cara sekaligus praktik pembuatan pupuk kompos di aula sekolah tersebut.
Kata dia, dipilihnya program kegiatan pembuatan pupuk kompos, karena melihat produk sampah organik yang dihasilkan rumah tangga, pedagang, di lingkungan pura, dll. cukup tinggi. Bahkan, sampah yang begitu banyak menjadi problem pembuangan keseharian masyarakat. 'Dengan mengetahui teknik pembuatan pupuk kompos ini, diharapkan sampah organik yang berlimpah tersebut dapat bermanfaat. Minimal untuk kesuburan tanaman yang ada di rumah masing-masing anak,' ujar Hendiyathi.
Di samping itu, dengan tahu teknik ini problem pembuangan sampah akan dapat diatasi. Hal yang lebih menarik lagi dipetik dari pembuatan pupuk kompos ini yakni bisa dijadikan peluang bisnis yang menguntungkan. 'Pupuk kompos dalam jumlah banyak kan bisa dijual, dan ini bisa dijadikan peluang bisnis yang menguntungkan. Siapa tahu di antara mereka (peserta didik - red) ke depannya tertarik mengembangkannya,' paparnya.
Kegiatan sekolah bekerja sama dengan orangtua murid ini, diawali dengan sosialisasi cara membuat pupuk kompos lewat media. Usai sosialisasi mereka membentuk kelompok. Masing-masing kelompok lalu praktik langsung membuat kompos, yang dipandu salah seorang istruktur, Kristian.
Hasil pantauan langsung wartawan, tampak anak-anak serius mengikuti petunjuk instrukturnya. Bahan-bahan telah dipersiapkan, mulai dari sampah organik, ember yang telah dilubangi, bantalan serabut kelapa, serutan gergaji/tanah, karton dan efesiensi mikro organisme (EM).
Efesiensi mikro organisme terdiri atas larutan air kelapa dicampur ragi tape, gula merah, air cucian beras dan yakult. Cara membuatnya, kata Kristian, mula-mula ember yang telah dilubangi diberikan lapisan kantor pada bawah dan dinding ember. Selanjutnya dimasukkan bantalan serabut kelapa yang di atasnya ditaburi serbuk gergaji/tanah. Masukkan sampah organik yang sudah dicampur EM. Lalu ditaburi serbuk gergaji/tanah lagi dan terakhir bantalan serabut kelapa. Ember kemudian ditutup dengan plastik. Ditunggu beberapa hari lalu diangin-anginkan dan untuk mendapatkan pupuk, hasil fermentasi tersebut diayak. Hasil ayakan inilah yang disebut pupuk kompos dan siap digunakan.
Sumber : Balipost